SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI

Blog ini berisi tentang informasi - informasi yang berhubungan dengan minat, bakat, kesehatan, dan lain - lain utamanya yang berhubungan dengan pramuka, yang insyaallah bisa bermanfaat bagi penikmat semua...amien

Senin, 04 April 2011

MAKALAH PROSA FIKSI



Makalah
MATA KULIAH PROSA FIKSI
MENGKAJI CERPEN
DARI INTRINSIK DAN EKSTRINSIK
Cerita pendek karangan I Gusti Ngurah Putu Wijaya (PUTU WIJAYA)
PERADILAN RAKYAT



Kelas 4 Pagi A
Kelompok IX;
1.      SYAILINDRA ARIEF S
2.      MOH. MOHLIS
3.      SUAIBAH



PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MADURA
PAMEKASAN
2011

Kata pengantar
Syukur alhadulillah kita telah diberi kesempatan untuk dapat kembali menyelesaikan makalah yang berjudul mengkaji serita pendek berdasarkan unsur intrinsic dan ekstrinsi. Makalah ini merupakan salah satu bentuk tuga syang dibebankan bagi kami untuk mengembangkan dan untuk lebih mendalami materi tentang prosa fiksi utamnya mengenai unsur – unsur yang membangun dalam sebuah karya cerita pendek.
Prosa fiksi merupakan sebuah karangan hayal berdasarkan apa yang ada dalam fikiran dan jiwa pengarangnya. Prosa fiksi didalamnya juga terdapat roman, novel, serta cerita pendek. Yang dari ketiga jenis karya tersebut semuanya hamper memilii unsir pembangun yang sama, yaitu unsur intrinsic dan ekstrinsik.
Makalah ini diharap mampu memberi pengalaman belajar yang sedikit lebih membantu. Tidak hanya bagi kelompok kami, namun juga bagi rekan – rekan yang berkenan membaca makalah kami ini.
Tidaklah sempurna hasil karya makalah kami ini, masih butuh bayak sekali masukan yang membangun yang juga akan menambah pengetahuan kita tentang pembuatan makalah serta untuk mendalami materi prosa fiksi ini.
Tak lupa pula kami ucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah prosa fiksi yang telah memberi dan membimbing kami untuk memahami materi prosa fiksi ini. Serta juga kepada rekan – rekan yang telah mendukung terselesaikannya makalah ini. Terima kasih.

 Pamekasan     maret 2011

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Prosa fiksi  berasal dari kata fictio yang berarti pembentukan, angan – angan, khayalan. Menurut Moeliono dkk, berarti : cerita rekaan (cerpen, roman, novel). Menurut Eddy (1991:49) mendefinisikan sebagai cerita yang direka (dikarang berdasar fantasia tau imajinasi). Menurut Chamidah dkk (1986), prosa fiksi merupakan cerita hasil olahan pengarang berdasarkan pandangan, tafsiran, serta penilaiyan tentang peristiwa yang berlangsung dalam hayal pengarang saja. Menurut M Saleh dan anton  “dalam soedjijono, 1984:64), yang dimkasud dengan prosa fiksi ialah (bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, kelakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan  oleh daya khayal atau imajinasi”
Dari urayan diatas, secara umum, prosa fiksi memiliki ciri – ciri sebagai berikut:
1.      Bentuknya bersifat menguraikan
2.      Terdapat pembagian satuan makna dalam wujud alinea – alinea
3.      Penggunaan bahasa yang cenderung longgar
Berdasarkan penjelasan – penjelasan diatas, tidaklah jauh berhubungan dengan cerita pendek. Bahkan juga cerita pendek telah berada dalam bentuk prosa fiksi. Oleh karena itu. Cerita pendek menjadi salah satu hal yang kami anggap perlu di kaji. Dengan harapan dapat memotifasi serta menambah pengetahuan kita secara aplikatif dari materi cerita pendek ini.
B.    TUJUAN
1.      Sebagai salah satu bentuk tugas dosen pembimbing mata kuliah prosa fiksi
2.      Untuk mendalami secara langsung unsur – unsur yang terkandung dalam cerita pendek

BAB II
PEMBAHASAN
A.     PENGERTIAN
Cerita pendek sering juga disingkat cerpen, ialah prosa fiksi yang relative pendek. Kependekan tersebut tentulah sangat erat kaitannya dengan tema atau permasalahan – permasalahn yang diangkat dalam satu cerita. Meski demikian, sebuah cerita pendek tidak dapat dikatakan sebagai noel yang dipendekkan dan bukan pula sebagai bagian atau fragnmen dari sebuah novel.
Beberapa ciri yang mungkit dapat sedikit memperjelas apa yang dimaksud dengan cerpen, diantaranya:
1.      Memiliki alur tunggal
2.      Jumlah pelaku yang terbatas
3.      Mencakup peristiwa yang terbatas pula.
4.      Rentang waktu cerita juga terbatas.
B.    UNSUR – UNSUR DALAM CERPEN
1. Unsur intrinsic
Unsur intrinsic menurut nurgiantoro adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Soedjijono mengatakan bahwa unsur intrinsic berkenaan dengan eksistensi cerita ekaan dengan cerita rekaan sebagai objek yang mandiri, yang memiliki dunianya sendiri.
Eksistensi cerita rekaan terletak pada unsur intrinsiknya tanpa mengabaikan unsur ekstrinsiknya.
Banyak sekali pendapat menurut para ahli yang membedakan macam – macam dan jenis unsur intrinsic. Namun jika kita simpulkan semua, maka unsur intrinsic cerita pendek atau cerita rekaan dapat dibagi menjadi;
a.      Tema
b.      Tokoh dan penokohan
c.      Alur
d.      Latar
e.      Tekhnik penceritaan dan
f.        Sudut pandang

2.      Unsur ekstrinsik
Menurut Nurgiantoro, unsur ekstrinsik ialah unsur yang berada diluar karya sastra itu sendiri. Menurut Semi: segala macam unsur yang berada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiraan karya sastra tersebut. Misalnya: factor social ekonomi, factor kebudayaan, factor social politik, dan tata nilai yang dianut oleh masyarakat
C.    KAJIAN BERDASARKAN MATERI DARI  CERPEN PILIHAN
Dari penjabaran materi diatas, dan di kaitkan dengan bahan cerita pendek yang kami kaji maka dapat kami jelaskan sebagai berikut.
Judul cerpen : PERADILAN RAKYAT
Karya              : I Gusti Ngurah Putu Wijaya (PUTU WIJAYA)
Kajian
1.      Unsur intrinsic     
a.      Tema                      : Kekeluargaan
b.      Tokoh dan penokohan     
i.       orang tua / pengacara senior: seorang pengacara profesional yang telah lama bergelut dalam dunia pengacara, dan telah belajar banyak dari pengalamnya sebaai pengacara. Tokoh Ini pada dasarnya diharapkan sebagai penasehat ang muda untuk tidak sembarang menerima sebagai pengacara atas alas an apapun termasuk profesionalisme.
ii.    anak muda / pengacara junior: seorang pengacara muda yang baru naik daun, yang karena keprofesionalitasnya, sehingga ia tidak memperhatikan benar atau tidaknya suatu kasus yang ditanganinya, sehingga menyebabkan dirinya menjadi korban dari kasus tersebut
c.      Alur                                     : alur maju
d.      Latar                                   : sebuah ruang pengadilan
e.      Tekhnik penceritaan         : -
f.        Sudut pandang                  : Orang Ke - 3
2.      Unsur ekstrinsik
Cerita Ini sedikit banyak dipengaruhi oleh keadaan Negara yang saat itu sedang mengalami maslah social politik dan ekonomi, sehingga yang melatar belakangi cerita pendek ini, ialah maraknya korupsi, serta istilah makelar kasus yang dapat memenangkan atau membenarkan yang salah hingga tidak memperdulikan kasus yang ditangani itu benar atau salah.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Prosa fiksi  berasal dari kata fictio yang berarti pembentukan, angan – angan, khayalan. secara umum, prosa fiksi memiliki ciri – ciri sebagai berikut:
1.      Bentuknya bersifat menguraikan
2.      Terdapat pembagian satuan makna dalam wujud alinea – alinea
3.      Penggunaan bahasa yang cenderung longgar
Cerita pendek sering juga disingkat cerpen, ialah prosa fiksi yang relative pendek. Kependekan tersebut tentulah sangat erat kaitannya dengan tema atau permasalahan – permasalahn yang diangkat dalam satu cerita
unsur intrinsic cerita pendek atau cerita rekaan dapat dibagi menjadi;
a.      Tema
b.      Tokoh dan penokohan
c.      Alur
d.      Latar
e.      Tekhnik penceritaan dan
f.        Sudut pandang
unsur ekstrinsik ialah unsur yang berada diluar karya sastra itu sendiri. Menurut Semi: segala macam unsur yang berada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiraan karya sastra tersebut. Misalnya: factor social ekonomi, factor kebudayaan, factor social politik, dan tata nilai yang dianut oleh masyarakat
Beberapa ciri yang mungkit dapat sedikit memperjelas apa yang dimaksud dengan cerpen, diantaranya:
1.      Memiliki alur tunggal
2.      Jumlah pelaku yang terbatas
3.      Mencakup peristiwa yang terbatas pula.
4.                  Rentang waktu cerita juga terbatas.
LAMPIRAN
Peradilan Rakyat
Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

TELAAH KURIKULUM MPBI

isi blog kali ini tidak seperti biasanya.
baki ini. blog saya isi dengan materi telaah kurikulum MPBI yang tugas ini merupakan tugas kampusss....

mohon maaf jika ada yang tidak berkenan. tulisan ini hanya olah fikiran semata. dan sebagai bentuk pemenuhan tugas...
selamat menikamati



KURIKULUM 2006
Setiap 10 tahun, pemerintah selalu memperbaharui kurikulum pendidikan yang ada di Indonesia, termasuk pada tahun 2006, dimana kurikulum yang berbasis kompetensi dicetuskan oleh pemerintah.
Kurikulum ini merupakan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Dimana setiap satuan pendidikan, yaitu sekolah, berhak memilih dan memprogram kurikulumnya sendiri berdasarkan kemampuan guru, siswa, dan sekolah yang bersangkutan.

Namun, ada beberapa kelemahan yang ada dalam kurikulum ini. Menurut saya pribadi, jika kurikulum tingkat satuan pendidikan ini di terapkan di sekolah akan berdampak sangat baik. Namun jika masih terlalu di bebani oleh KKM, dimana KKM ini masih di tetapkan oleh pemerintah. Sehingga jika kita merujuk pada sekolah yang ada di perkampungan atau pedesaan, sekolah pedalaman, maka kemungkina terbesarnya ialah akan ada sebuah bentuk “kecurangan” yang terjadi. Ada beberapa sekolah yang mengejar kelulusan siswanya hanya karena ingin semua siswanya lulus. Sehingga mereka(guru/sekolah)menaikkan nilai atau bagaimanapun caranya agar siswa mereka dapat lulus.
Jika memang kurikulum tingkat satuan pendidikan ini di terapkan. Maka hendaknya pemerintah hanya memantau dan membimbing atau membina sekolah – sekolah. Sehingga sekolah tersebut tidak keluar dari koridor yang telah di tetapkan.
Dinas pendidikan cukup memantau dan mengawasi jalannya belajar pembelajaran yang ada di sekolah – sekolah. Serta membimbing para guru dan sekolah tersebut

Sekian dan terima kasih

Rabu, 09 Maret 2011

NASKAH BERUSIA 400 TAHUN DITEMUKAN DI PAMEKASAN

PAMEKASAN - Naskah kuno dari kitab Bahrul Lahut karya
ulama Indonesia, ditemukan di
Pamekasan, Madura, Jawa
Timur. Kitab yang ditulis
tangan itu ditemukan tim
peneliti dari Balai Litbang Kantor Kementerian Agama
Semarang di Pondok Pesantren
Sumber Anyar, Desa Larangan
Tokol, Kecamatan Tlanakan,
Pamekasan. “Kalau dilihat dari kertasnya, kitab ini diperkirakan ditulis
sekira abad ke-17,” ungkap Umi Masfiah, salah seorang
peneliti naskah kitab kuno di
pesantren itu, Rabu (9/3/2011)
. Kondisi kitab karya ulama asal
Aceh itu sebagian sudah tidak
utuh lagi dan banyak yang
berlubang karena dimakan
rayap. Ada sekira 80
eksemplar naskah kuno yang ada di Pesantren Sumber
Anyar, semuanya ditulis
dengan tangan. “Kalau jenis kitabnya ada sekira 120, dalam satu bagian
ada yang terdiri dari lebih dari
satu kitab,” kata Ketua Pengurus Perpustakaan
Sejarah Pesantren Sumber
Anyar, Kholis. Kitab Bahrul Lahut membahas
tentang filsafat Ketuhanan di
antara kitab dalam naskah-
naskah kuno yang ada di
perpustakaan itu. “Bahrul Lahut itu artinya samudera
Ketuhanan,” terang Kholis. Kitab ini sempat diklaim sebagai
karya ulama Malaysia, karena
menggunakan bahasa Melayu.
Namun kitab ini sebenarnya
buah karya ulama Indonesia
asal Aceh. Selain Bahrul Lahut juga
ditemukan naskah kitab kuno
karya intelektual muslim, Ibnu
Arabi berjudul Tuhfatul
Mursalah dan Kitabul Waqad
atau ilmu astronomi. Salah satu isi kitab astronomi
yang berbahasa Arab ini
menjelaskan tentang
peredaran bumi, bulan, dan
matahari. Menurut koordinator tim
peneliti Balai Litbang Kemenang
Semarang Zainul Atfal
penelitian naskah kuno ini
dilakukan untuk mendalami
khazanah ilmu keagamaan di Indonesia. “Kami memilih pesantren ini sebagai lokasi penelitian
karena untuk sementara,
naskah kuno terbanyak
berada di pesantren ini,” ucap Zainul. Naskah kuno ditulis di kertas
yang terbuat dari kulit kayu
dan menggunakan tinta dari
daun mimbo. Sebagian lainnya
ada yang dibuat menggunakan
kertas Eropa. Hal ini dimungkinkan karena naskah-
naskah tersebut ditulis dan
dicetak di Eropa pada masa itu. Ini dibuktikan dengan adanya
gambar transparan di tengah
kertas yang menunjukkan
kapan, di mana, serta
menggunakan kertas apa
naskah-naskah itu ditulis dan dicetak.

Selasa, 08 Maret 2011

10 ALASAN UTAMA SBI HARUS DIHENTIKAN

10 Alasan Utama SBI Harus Dihentikan JAKARTA, KOMPAS.com - Ada sepuluh kelemahan utama yang menjadi
alasan kuat bagi Kementrian
Pendidikan Nasional untuk
segera menghentikan program
sekolah bertaraf Internasional
(SBI). Mulai dari salah konsep hingga merusak bahasa dan
mutu pendidikan, program SBI
dianggap tidak cocok dan
harus segera ditinggalkan. Demikian dilontarkan Ketua
Umum Ikatan Guru Indonesia
(IGI) Satria Dharma dalam Petisi
Pendidikan tentang Sekolah
Bertaraf Internasional (SBI)
yang dinilai sebagai program gagal. Petisi itu dipaparkan
Ketua Umum IGI Satria Dharma
di depan Komisi X DPR RI,
Selasa (8/3/2011), untuk
mendesak Komisi X segera
menghentikan sementara seluruh program SBI. "Program SBI itu salah konsep,
buruk dalam pelaksanaannya
dan 90 persen pasti gagal. Di
luar negeri konsep ini gagal
dan ditinggalkan," kata Satria
tentang isi petisi tersebut. Menurutnya, sepuluh
kelemahan mendasar program
SBI itu harus dievaluasi,
diredefinisi, dan perlu
dihentikan. Kelemahan
pertama, kata Satria, program SBI jelas tidak didahului riset
yang lengkap sehingga
konsepnya sangat buruk. "Bisa dibuktikan, bahwa tidak
jelas apa yang diperkuat,
diperkaya, dikembangkan,
diperdalam dalam SBI," tegas
Satria. Kedua, SBI adalah program
yang salah model. Kemdiknas
membuat panduan model
pelaksanaan untuk SBI baru
(news developed), tetapi yang
terjadi justru pengembangan pada sekolah-sekolah yang
telah ada (existing school). Ketiga, program SBI telah salah
asumsi. Kemdiknas
mengasumsikan, bahwa untuk
dapat mengajar hard science
dalam pengantar bahasa
Inggris, seorang guru harus memiliki TOEFL> 500. "Padahal, tidak ada
hubungannya antara nilai
TOEFL dengan kemampuan
mengajar hard science dalam
bahasa Inggris. TOEFL bukanlah
ukuran kompetensi pedagogis," paparnya. Merusak bahasa Satria memaparkan, kelemahan
keempat pada SBI adalah telah
terjadi kekacauan dalam
proses belajar-mengajar dan
kegagalan didaktik.
Menurutnya, guru tidak mungkin disulap dalam lima hari
agar bisa mengajarkan
materinya dalam bahasa
Inggris. Akibatnya, banyak
siswa SBI justru gagal dalam
ujian nasional (UN) karena mereka tidak memahami materi
bidang studinya. "Itulah fakta keras yang
menunjukkan bahwa program
SBI ini telah menghancurkan
best practice dan menurunkan
mutu sekolah-sekolah terbaik
yang dijadikan sekolah SBI," tambahnya. Di sisi lain, hasil riset Hywel
Coleman dari University of
Leeds UK menunjukkan, bahwa
penggunaana bahasa Inggris
dalam proses belajar-mengajar
telah merusak kompetensi berbahasa Indonesia siswa. Sementara itu, kelemahan
kelima dari SBI adalah
penggunaan bahasa pengantar
pendidikan yang salah konsep.
Dengan label SBI, materi
pelajaran harus diajarkan dalam bahasa Inggris,
sementara di seluruh dunia
seperti Jepang, China, Korea
justru menggunakan bahasa
nasionalnya, tetapi siswanya
tetap berkualitas dunia. "Kalau ingin fasih dalam
berbahasa Inggris yang harus
diperkuat itu bidang studi
bahasa Inggris, bukan bahasa
asing itu dijadikan bahasa
pengantar pendidikan," tegas Satria. Keenam, SBI dinilai telah
menciptakan diskriminasi dan
kastanisasi dalam pendidikan.
Sementara itu, kelemahan
ketujuh menegaskan, bahwa
SBI juga telah menjadikan sekolah-sekolah publik menjadi
sangat komersial. "Komersialisasi pendidikan inilah
yang kita tentang, karena
hanya anak orang kaya yang
bisa sekolah di SBI," tandas
Satria. SBI juga telah melanggar UU
Sisdiknas. Karena menurut
Satria, pada tingkat
pendidikan dasar sekolah
publik atau negeri itu wajib
ditanggung pemerintah. Kenyataannya, dalam SBI
peraturan ini tidak berlaku. Kedelapan, SBI telah
menyebabkan penyesatan
pembelajaran. Penggunaan
piranti media pendidikan
mutakhir dan canggih seperti
laptop, LCD, dan VCD juga menyesatkan seolah karena
tanpa itu semua sebuah
sekolah tidak berkelas dunia. "Program ini lebih
mementingkan alat ketimbang
proses. Padahal, pendidikan
adalah lebih ke masalah proses
ketimbang alat," katanya. Kelemahan kesembilan, lanjut
dia, SBI telah menyesatkan
tujuan pendidikan. Kesalahan
konseptual SBI terutama pada
penekanannya terhadap
segala hal yang bersifat akademik dengan menafikan
segala hal yang nonakademik. "Seolah tujuan pendidikan
adalah untuk menjadikan siswa
sebagai seorang yang cerdas
akademik belaka, padahal
pendidikan bertujuan mendidik
manusia seutuhnya, termasuk mengembangkan potensi siswa
di bidang seni, budaya, dan
olahraga," ujar Satria. Kelemahan terakhir, SBI adalah
sebuah pembohongan publik.
SBI telah memberikan persepsi
yang keliru kepada orang tua,
siswa, dan masyarakat karena
SBI dianggap sebagai sekolah yang "akan" menjadi sekolah
bertaraf Internasional dengan
berbagai kelebihannya.
Padahal, kata Satria,
kemungkinan tersebut tidak
akan dapat dicapai dan bahkan akan menghancurkan kualitas
sekolah yang ada. "Ini sama saja dengan
menanam 'bom waktu'.
Masyarakat merasa dibohongi
dengan program ini dan pada
akhirnya akan menuntut
tanggung jawab pemerintah yang mengeluarkan program
ini," kata Satria.

Senin, 14 Februari 2011

KURSUS MAHIR DASAR UNTUK DEWAN KERJA SE JAWA TIMUR


Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur Melalui Dewan Kerja Daerah Jawa Timur, kemarin tanggal 7 – 12 februari 2010 melaksanakan kursus mahir tingkat dasar bagi Pengurus Dewan Kerja Cabang se Jawa Timur.

Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Ketua Kwartir Daerah, Kak Purmadi di Aula lantai 2 Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, yang dihadiri oleh 37 peserta dari unsur Dewan Kerja Cabang se Jawa Timur, dan 2 orang dari unsur Dewan Kerja Daerah Jawa Timur.

“Perbandingan  antara Pembina dan Peserta Didik Utamanya di Jawa Timur sangatlah jauh perbandingannya dari normal apalagi ke ideal. Maka dari itu Dewan Kerja Daerah Jawa Timur, berinisiatif untuk mengadakan Kursus Mahir Dasar Bagi Dewan Kerja Cabang se Jawa Timur ini, untuk meminimalkan perbandingan tersebut. Apa lagi Dewan Kerja kan masih dalam Usia Remaja yang masih produktif, jadi tepat sekali untuk menggali Potesi dan Mendapat Bibit baru untuk Pembina…. Ya kan?” menurut ketua Sanga Kerja yang juga menjabat sebagai wakil ketua DKD Jatim 2010-2015 kak Masul Hadi

Pamekasan diwakili oleh kak syailindra arief s (Ketua Dewan Kerja Cabang Pamekasan) dan kak zaenullah (Bendahara Dewan Kerja Cabang Pamekasan)

Kegiatan dimulai dengan pengantar dan dinamika kelompok, dilanjutkan dengan matei kesiagaan, kepenggalanga, kepenegaan dan kepandegaan. Selanjutnya acara terahir ialah open forum dan upacara penutupan.

Tak lupa pula, malam harinya,sebelum peserta kembali ke kwarcab masing – masing diadakan Malam Brawijaya, sebagai salah satu adatnya….